Bahan & Material Kemasan

Mengenal Jenis Kode Plastik pada Kemasan Botol Anda

23 Apr 2020 Oleh Heni Nurhayati
Daftar Isi 10 bagian
  1. 01 1. PETE/PET (Polyethylene Terephthalate)
  2. 02 2. HDPE (High Density Polyethylene)
  3. 03 3. PVC (Polyvinyl Chloride)
  4. 04 4. LDPE (Low Density Polyethylene)
  5. 05 5. PP (Polypropylene)
  6. 06 6. PS (Polystyrene)
  7. 07 7. OTHER
  8. 08 Cara Membaca dan Memeriksa Kode Plastik Sebelum Membeli Botol dalam Jumlah Besar
  9. 09 Kode Plastik Mana yang Aman Dipakai Berulang Kali?
  10. 10 Peran Kode Plastik dalam Program Daur Ulang

jenis kode plastik kemasan botol

Industri kemasan botol plastik terus berkembang pesat. Tapi, amankah bahan plastik ini untuk digunakan sehari-hari? Dengan mengenal jenis plastik kemasan botol, kita bisa lebih bijak memilih sekaligus ikut menjaga lingkungan.

Setiap botol plastik, termasuk botol hand sanitizer, umumnya punya kode daur ulang di bagian bawahnya. Kode ini penting diketahui karena berkaitan dengan bahan baku botol dan dampaknya terhadap kesehatan maupun lingkungan. Berikut penjelasan lengkap setiap kodenya.

1. PETE/PET (Polyethylene Terephthalate)

Kode ini ditandai logo segitiga daur ulang dengan angka 1 di tengahnya, disertai tulisan PET atau PETE. Jenis plastik ini biasa dipakai untuk botol minuman, air mineral, jus, minyak goreng, kecap, dan hampir semua kemasan produk minuman.

kode plastik PET pada botol kemasan

2. HDPE (High Density Polyethylene)

Kode HDPE ditandai logo segitiga dengan angka 2. Bahan ini lebih keras, kuat, buram, dan tahan suhu tinggi. Biasanya dipakai untuk botol dan jerigen HDPE seperti botol kosmetik, obat, susu, galon air minum, tupperware, kursi lipat, hingga jerigen pelumas.

3. PVC (Polyvinyl Chloride)

Kode ini biasanya berwarna merah dengan angka 3 dan tulisan V. PVC termasuk jenis plastik yang paling sulit didaur ulang. Bahan ini sering dipakai untuk plastik pembungkus, mainan, selang air, pipa bangunan, botol kecap, taplak meja plastik, dan botol sambal.

PVC mengandung DEHA yang cukup berbahaya bagi kesehatan. Karena itu, kemasan berbahan PVC sebaiknya tidak dipakai untuk produk makanan atau minuman.

kode plastik PVC pada kemasan

4. LDPE (Low Density Polyethylene)

Kode ini ditandai angka 4 di dalam logo segitiga daur ulang. LDPE merupakan plastik thermoplastic berbahan minyak bumi yang banyak dipakai untuk tutup plastik, tas kresek, dan plastik tipis lainnya.

5. PP (Polypropylene)

Kode ini ditandai angka 5 dengan tulisan PP. Botol berbahan PP biasanya transparan namun tidak jernih atau sedikit berawan. Bahan ini termasuk pilihan terbaik untuk kemasan makanan dan minuman, seperti cup plastik, tutup botol, botol sanitizer, botol minum, mainan anak, hingga botol minum bayi.

6. PS (Polystyrene)

kode plastik PS pada kemasan

Kode ini ditandai angka 6 dengan tulisan PS. Bahan ini biasa dipakai untuk styrofoam, gelas minum, serta sendok dan garpu sekali pakai. Polystyrene bisa melepaskan zat styrene yang mengontaminasi makanan saat bersentuhan langsung dengannya.

Karena itu, sebaiknya hindari bahan ini. Styrene berpotensi membahayakan kesehatan otak dan mengganggu hormon, terutama pada wanita, hingga berisiko memicu masalah reproduksi dan sistem saraf.

7. OTHER

Kode ini ditandai angka 7 dengan tulisan OTHER, mencakup sekitar empat jenis plastik: ABS (acrylonitrile butadiene styrene), SAN (styrene acrylonitrile), PC (polycarbonate), dan Nylon. ABS dan SAN punya resistensi tinggi terhadap reaksi kimia, suhu, dan benturan, sehingga cukup baik dipakai untuk kemasan makanan dan minuman.

Itulah beberapa jenis bahan plastik yang sering dipakai untuk kemasan, mulai dari botol hand sanitizer hingga produk makanan dan minuman. Dengan mengenali kode-kode ini, kita bisa lebih bijak memilih kemasan yang tepat sekaligus aman saat didaur ulang. Jika Anda masih menimbang botol kaca atau botol plastik untuk produk Anda, pertimbangkan juga faktor daya tahan, biaya, dan kemudahan pengiriman sebelum memutuskan.

Bingung mencari botol sanitizer berkualitas? Kunjungi gudangkemasan.com, penyedia botol hand sanitizer terlengkap dengan berbagai bentuk dan ukuran. Pesan sekarang juga botol sanitizer berkualitas dengan harga terjangkau, hanya di gudangkemasan.com!

Cara Membaca dan Memeriksa Kode Plastik Sebelum Membeli Botol dalam Jumlah Besar

Bagi pelaku usaha yang berencana membeli botol plastik dalam jumlah grosir, memeriksa kode daur ulang di bagian bawah botol sebelum melakukan pemesanan besar sangat penting. Kode ini biasanya tercetak timbul dalam bentuk segitiga kecil dengan angka di tengahnya, dan bisa dicek langsung pada sampel sebelum Anda memutuskan membeli dalam volume besar.

Jangan hanya mengandalkan keterangan dari penjual, tetapi cek juga secara fisik apakah kode yang tertera sesuai dengan kegunaan produk Anda. Misalnya, untuk kemasan makanan atau minuman, pastikan kode yang tertera adalah 1 (PET), 2 (HDPE), atau 5 (PP), bukan kode 3 (PVC) atau 6 (PS) yang berisiko bagi kesehatan jika bersentuhan dengan produk konsumsi.

Kode Plastik Mana yang Aman Dipakai Berulang Kali?

Tidak semua jenis plastik aman digunakan berulang kali. Botol berkode PET (1), misalnya, sebenarnya dirancang untuk sekali pakai karena strukturnya bisa melepaskan zat kimia jika dipakai berulang, terutama saat terkena panas atau dicuci dengan air panas. Sebaliknya, botol berkode HDPE (2) dan PP (5) relatif lebih aman untuk pemakaian berulang karena lebih tahan panas dan stabil secara kimia.

Untuk pelaku usaha yang menjual produk isi ulang seperti minyak goreng curah atau sabun cair, memilih botol berkode HDPE atau PP jauh lebih disarankan dibanding PET, mengingat konsumen kemungkinan akan menggunakan kembali botol tersebut untuk isi ulang berikutnya. Edukasi sederhana tentang kode plastik ini juga bisa menjadi nilai tambah yang membangun kepercayaan konsumen terhadap keseriusan Anda menjaga kualitas dan keamanan produk.

Peran Kode Plastik dalam Program Daur Ulang

Memahami kode plastik juga membantu proses daur ulang berjalan lebih efektif, baik di tingkat rumah tangga maupun industri. Botol dengan kode yang sama biasanya diproses bersama di fasilitas daur ulang, sehingga mencampur botol berkode berbeda dalam satu tempat sampah daur ulang justru bisa memperlambat proses pemilahan dan menurunkan kualitas hasil daur ulangnya.

Bagi pelaku usaha yang ingin menonjolkan citra ramah lingkungan, mencantumkan informasi kode plastik dan ajakan mendaur ulang pada label kemasan bisa menjadi nilai tambah tersendiri. Langkah kecil ini menunjukkan kepedulian bisnis terhadap lingkungan, sekaligus mengedukasi konsumen agar tidak sembarangan membuang kemasan bekas, terutama di Bali yang isu pengelolaan sampah plastiknya cukup menjadi perhatian publik.