Kemasan Kopi & Minuman Kekinian

Tips Memilih Jenis Kemasan Kopi yang Tepat untuk Usaha

21 Mei 2019 Oleh Bali Web Design
Daftar Isi 4 bagian
  1. 01 Tips Memilih Macam – Macam Kemasan Kopi
  2. 02 Cara Menyimpan Kopi Setelah Kemasan Dibuka agar Tetap Segar
  3. 03 Memilih Ukuran Kemasan Kopi Sesuai Skala Usaha
  4. 04 Menyesuaikan Kemasan dengan Karakter Konsumen Kopi Lokal

Dulu, banyak orang menganggap kemasan kopi yang punya katup udara (air valve) pasti lebih baik dibanding kemasan tanpa katup. Anggapan ini berubah setelah mencicipi kopi dari Stumptown Coffee Roasters dan Blue Bottle, yang justru mengemas produknya tanpa katup udara sama sekali.

Kedua roastery tersebut cukup diakui di dunia kopi, jadi tidak mungkin mereka mengabaikan faktor oksidasi begitu saja. Ternyata ada alasan tersendiri di balik pilihan kemasan tersebut. Jadi, kemasan mana yang benar? Jawabannya, tidak ada yang salah.

Roastery kopi biasanya memilih salah satu dari tiga jenis kemasan. Pilihan ini bukan hanya soal ketahanan kopi, tapi juga mempertimbangkan dampak lingkungan, biaya, dan tampilan kemasan. Berikut tiga macam kemasan kopi yang umum digunakan.

Tips Memilih Macam – Macam Kemasan Kopi

# Unsealed Craft Packaging (Kemasan Tanpa Segel)

Kopi dikemas dalam kantong kertas greaseproof, jenis kertas food grade yang tahan terhadap rembesan minyak kopi. Kemasan ini biasanya hanya ditutup dengan cara digulung dan diberi penyekat khusus.

Karena masih terekspos udara, kesegaran kopi dalam kemasan ini cenderung menurun lebih cepat. Roastery yang memilih kemasan ini biasanya menjual kopi yang proses degassing-nya sudah hampir selesai, sehingga siap diseduh.

Roastery juga menganggap pembelinya sudah punya kanister atau wadah khusus di rumah, sehingga kemasan ini hanya bersifat sementara. Jika belum punya wadah khusus, kopi sebaiknya dihabiskan dalam 7-10 hari agar kesegarannya tetap terjaga.

Alasan lain pemilihan kemasan ini adalah materialnya yang mudah terurai, sehingga dianggap lebih ramah lingkungan.

# Sealed Foil Packaging (Kemasan Bersegel Berlapis Foil)

Kantong dengan lapisan triple-ply foil langsung disegel begitu biji kopi dimasukkan, agar udara tidak masuk. Kemasan ini tetap dilengkapi katup untuk melepaskan karbon dioksida yang keluar secara alami dari biji kopi setelah proses roasting.

Katup inilah yang membantu kopi tetap segar dan tidak cepat basi. Namun begitu segel dibuka, kesegaran kopi akan menurun secara perlahan.

Kemasan jenis ini memang tidak mudah didaur ulang, meski tetap bisa dilakukan. Banyak roaster memilih opsi ini karena dianggap seimbang dari segi biaya, dampak lingkungan, dan kesegaran produk.

# Gas-Flushed Sealed Foil Packaging (Kemasan Bersegel Kedap Udara)

Kemasan ini mirip dengan sealed foil packaging, tapi saat proses penyegelan mesin akan mengalirkan gas inert seperti nitrogen ke dalam kantong. Gas ini mengeluarkan oksigen dari dalam kemasan, karena oksigen adalah penyebab utama kopi cepat basi.

Opsi ini terbukti paling efektif menjaga kesegaran kopi lebih lama. Meski begitu, begitu segel dibuka, kopi tetap akan mengalami penurunan kesegaran karena teroksidasi udara.

Sayangnya, kemasan ini kurang populer karena biaya produksinya tinggi, mulai dari peralatan, operasional, waktu proses, hingga kebutuhan gas inert.

Pada akhirnya, tidak ada kemasan kopi yang salah, asalkan pembelinya memahami alasan di balik pemilihan kemasan tersebut. Cara paling aman menyimpan kopi tetaplah memindahkannya ke dalam kanister, bukan membiarkannya di kemasan aslinya.

Itulah tips memilih kemasan kopi yang tepat untuk bisnis Anda. Jika Anda membutuhkan kemasan berkualitas, Gudang Kemasanku siap membantu. Pesan kemasan kopi di Gudang Kemasanku sesuai kebutuhan bisnis Anda, atau hubungi kami di WA: +6287702063388. Anda juga bisa datang langsung ke toko kami.

Cara Menyimpan Kopi Setelah Kemasan Dibuka agar Tetap Segar

Sebagus apa pun jenis kemasan yang dipilih, kesegaran kopi tetap akan menurun begitu kemasan dibuka dan udara masuk secara terus-menerus. Untuk pelaku usaha kopi yang menjual dalam kemasan besar sebagai stok toko, penting untuk mengedukasi konsumen agar segera memindahkan kopi ke wadah kedap udara setelah kemasan asli dibuka, alih-alih menutupnya kembali dengan klip biasa.

Bagi usaha kedai kopi di Bali yang membeli biji kopi dalam kemasan besar untuk stok harian, sebaiknya bagi kopi ke dalam wadah yang lebih kecil sesuai kebutuhan operasional per hari atau per minggu. Cara ini mengurangi frekuensi kemasan besar terbuka dan tertutup berulang kali, sehingga sisa kopi di dalamnya tetap terjaga kesegarannya lebih lama.

Memilih Ukuran Kemasan Kopi Sesuai Skala Usaha

Selain jenis kemasan, ukuran kemasan juga perlu disesuaikan dengan kecepatan perputaran stok kopi Anda. Usaha kopi rumahan dengan penjualan lambat sebaiknya memilih kemasan berukuran kecil, seperti 100-250 gram, agar kopi tidak terlalu lama tersimpan dalam satu kemasan sebelum habis terjual atau dikonsumsi.

Sebaliknya, kedai kopi atau kafe dengan konsumsi harian tinggi bisa memilih kemasan ukuran besar untuk stok dapur, namun tetap disarankan memindahkan sebagian isinya ke kemasan kerja yang lebih kecil untuk penggunaan sehari-hari. Strategi ini membantu menjaga keseimbangan antara efisiensi biaya kemasan dan kualitas rasa kopi yang disajikan kepada pelanggan.

Menyesuaikan Kemasan dengan Karakter Konsumen Kopi Lokal

Konsumen kopi di Bali cukup beragam, mulai dari wisatawan yang mencari oleh-oleh kopi lokal hingga pelaku usaha kafe yang butuh pasokan rutin dalam jumlah besar. Untuk segmen oleh-oleh, kemasan yang menarik secara visual dengan ukuran kecil dan mudah dibawa dalam koper lebih diutamakan dibanding ukuran besar yang merepotkan saat bepergian.

Sementara untuk segmen kafe atau reseller, faktor kepraktisan dan efisiensi biaya kemasan biasanya jadi pertimbangan utama dibanding tampilan visual yang mewah. Memahami perbedaan kebutuhan kedua segmen ini membantu Anda menentukan lini produk kemasan yang berbeda, sehingga satu jenis kopi bisa dijual dalam dua versi kemasan yang masing-masing menyasar target pasar spesifik tanpa harus mengorbankan efisiensi produksi.