Jar & Toples Kaca

Mengenal Jenis Plastik Kemasan Botol dan Toples yang Aman

18 Feb 2019 Oleh Gudang Kemasan
Daftar Isi 2 bagian
  1. 01 Jenis Plastik Kemasan Berdasarkan Kode Daur Ulang
  2. 02 Cara Mengecek Keamanan Kemasan Plastik Sebelum Dipakai Ulang

Saat memilih kemasan untuk usaha makanan atau minuman, Anda pasti pernah bingung membedakan jenis plastik kemasan yang aman digunakan. Setiap botol atau toples plastik ternyata punya kode berbeda yang menunjukkan bahan pembuatnya.

Kode ini biasanya berupa segitiga kecil dengan angka di tengahnya, tertera di bagian bawah kemasan. Artikel ini akan membantu Anda mengenali setiap jenis plastik kemasan beserta tingkat keamanannya untuk makanan dan minuman.

Jenis Plastik Kemasan Berdasarkan Kode Daur Ulang

# Kode 1 — PET atau PETE (Polyethylene Terephthalate)

Kode angka 1 dengan tulisan PET atau PETE biasanya muncul di bagian bawah botol plastik bening. Produsen sering memakai bahan ini untuk botol air mineral, botol jus, dan hampir semua botol minuman kemasan.

Gunakan botol PET hanya sekali pakai. Jika Anda memakainya berulang kali, apalagi untuk menyimpan air hangat atau panas, lapisan polimer botol bisa meleleh dan melepaskan zat karsinogenik (zat pemicu kanker).

Produsen membuat PET dengan bahan antimoni trioksida. Bahan ini berisiko bagi pekerja yang mengolah atau mendaur ulang plastik ini, karena partikelnya bisa terhirup lewat saluran pernapasan.

Paparan zat ini dalam waktu lama bisa menyebabkan iritasi kulit dan saluran pernapasan. Pada pekerja perempuan, paparan jangka panjang bahkan bisa memicu gangguan menstruasi dan risiko keguguran.

# Kode 2 — HDPE (High Density Polyethylene)

Kode angka 2 dengan tulisan HDPE menandakan plastik berkerapatan tinggi. Anda biasa menemukannya pada botol susu putih, tupperware, galon air minum, dan kursi lipat.

HDPE tergolong plastik yang aman karena tidak mudah bereaksi secara kimia dengan makanan atau minuman yang dikemasnya. Bahan ini juga lebih kuat, keras, buram, dan tahan suhu tinggi.

Sama seperti PET, sebaiknya Anda hanya memakai kemasan HDPE sekali pakai. Semakin sering dipakai ulang, semakin besar pelepasan senyawa antimoni trioksida ke dalam makanan atau minuman.

# Kode 3 — PVC atau V (Polyvinyl Chloride)

Kode angka 3 dengan tulisan V menandakan PVC (polyvinyl chloride), jenis plastik yang paling sulit didaur ulang. Anda bisa menemukannya pada plastik pembungkus (cling wrap) dan beberapa jenis botol.

PVC mengandung DEHA, zat yang bisa bereaksi dengan makanan saat bersentuhan langsung. Reaksi ini berpotensi berbahaya bagi ginjal, hati, dan berat badan.

Sebaiknya Anda mencari alternatif pembungkus makanan lain yang tidak mengandung bahan pelembut ini, misalnya plastik berbahan polietilena atau bahan alami seperti daun pisang.

# Kode 4 — LDPE (Low Density Polyethylene)

Kode angka 4 dengan tulisan LDPE menandakan plastik berkerapatan rendah. Produsen biasa memakainya untuk tempat makanan, plastik kemasan, dan botol yang bertekstur lembek.

LDPE bersifat kuat, agak tembus cahaya, fleksibel, dan permukaannya agak berminyak. Pada suhu di bawah 60°C, bahan ini tahan terhadap sebagian besar senyawa kimia.

Anda bisa mendaur ulang plastik jenis ini. LDPE juga aman untuk tempat makanan karena sulit bereaksi secara kimia dengan makanan yang dikemasnya.

# Kode 5 — PP (Polypropylene)

Kode angka 5 dengan tulisan PP menjadi pilihan terbaik untuk kemasan makanan dan minuman, termasuk botol minum bayi. Ciri khasnya, botol berbahan PP terlihat transparan namun agak berawan, tidak sejernih PET.

PP lebih kuat, ringan, dan tahan suhu tinggi. Bahan ini juga punya daya tembus uap yang rendah dan tahan terhadap lemak. Carilah kode angka 5 jika Anda ingin membeli kemasan plastik untuk makanan atau minuman.

# Kode 6 — PS (Polystyrene)

Kode angka 6 dengan tulisan PS menandakan polystyrene, bahan yang biasa dipakai untuk styrofoam dan gelas minum sekali pakai. Eduard Simon, seorang apoteker asal Jerman, menemukan bahan ini secara tidak sengaja pada tahun 1839.

Sebaiknya Anda menghindari bahan ini. Polystyrene bisa melepaskan zat styrene ke dalam makanan saat bersentuhan langsung, dan zat ini berisiko mengganggu kesehatan otak serta hormon estrogen pada perempuan.

Bahan ini juga sulit didaur ulang. Jika kode angka tidak tertera pada kemasan, Anda bisa mengenali PS lewat nyala api berwarna kuning-jingga saat dibakar, meski cara ini sebaiknya dihindari.

# Kode 7 — Other (Jenis Plastik Lainnya)

Kode angka 7 mencakup jenis plastik lain, termasuk polycarbonate. Bersama kode 1, 3, dan 6, kelompok ini tergolong berisiko secara kimiawi jika dipakai berulang kali untuk makanan.

Ini bukan berarti kode lain selalu sepenuhnya aman. Namun, jika memungkinkan, pilih plastik berkode 2, 4, 5, atau 7 asal bukan polycarbonate.

Jika kemasan tidak mencantumkan kode plastik, atau kodenya kurang jelas, cara paling aman adalah menghubungi produsennya langsung. Tanyakan jenis plastik yang mereka pakai untuk membuat kemasan tersebut.

Cara Mengecek Keamanan Kemasan Plastik Sebelum Dipakai Ulang

Selain melihat kode segitiga di dasar kemasan, ada beberapa tanda fisik yang bisa Anda perhatikan untuk menilai kondisi botol atau toples plastik. Botol yang sudah tergores dalam, berubah warna jadi kekuningan, atau mengeluarkan bau plastik menyengat saat dibuka sebaiknya tidak dipakai lagi untuk makanan, meskipun kodenya tergolong aman seperti PP atau HDPE. Goresan pada permukaan plastik menjadi celah bagi bakteri untuk bersarang, sementara perubahan warna biasanya menandakan plastik sudah mulai terdegradasi akibat panas atau sinar matahari.

Untuk usaha makanan dan minuman skala UMKM, sebaiknya Anda juga menghindari kebiasaan menyimpan kemasan plastik bekas produk non-makanan lalu memakainya kembali untuk kemasan konsumsi, walaupun kode plastiknya sama. Residu kimia dari isi sebelumnya bisa menempel di pori-pori plastik dan sulit dibersihkan sepenuhnya hanya dengan air dan sabun cuci piring biasa.

Kapan Sebaiknya Beralih ke Toples atau Botol Kaca

Jika produk Anda mengandung minyak, cuka, atau bumbu dengan aroma kuat seperti sambal dan acar, toples kaca jadi pilihan lebih aman dibanding plastik jenis apa pun. Kaca tidak menyerap bau maupun warna, sehingga rasa asli produk tetap terjaga meski disimpan berbulan-bulan. Kaca juga tidak melepaskan senyawa kimia apa pun ke dalam makanan, berbeda dengan plastik yang berpotensi bereaksi saat bersentuhan dengan bahan berminyak atau asam dalam waktu lama.

Pertimbangkan pula sisi biaya dan berat kemasan sebelum memutuskan. Toples kaca umumnya lebih mahal dan lebih berat saat dikirim, sehingga cocok untuk produk premium atau isi ulang di toko, sementara plastik food grade tetap jadi pilihan praktis untuk distribusi dalam jumlah besar dengan anggaran terbatas.

Itulah penjelasan tentang jenis plastik kemasan yang perlu Anda ketahui sebelum memilih botol atau toples untuk usaha makanan dan minuman. Jika Anda membutuhkan botol plastik atau toples yang aman, Anda bisa memesannya di gudang kemasan kami.

Belum menemukan botol atau toples yang sesuai dengan kebutuhan usaha Anda? Silakan datang langsung ke toko gudang kemasan kami dan pesan sesuai keinginan Anda.