Kemasan Makanan

Kemasan Ramah Lingkungan untuk Produk Makanan & Minuman

18 Mar 2019 Oleh Gudang Kemasan
Daftar Isi 2 bagian
  1. 01 Jenis Kemasan Ramah Lingkungan untuk Makanan & Minuman
  2. 02 Kriteria Memilih Kemasan Ramah Lingkungan

Kemasan sekarang tidak cukup hanya unik dan kuat. Banyak pelaku industri makanan dan minuman mulai peduli dengan isu pemanasan global. Karena itu, mereka mulai beralih menggunakan kemasan ramah lingkungan, atau yang biasa disebut sustainable packaging.

Pencemaran lingkungan memang jadi masalah yang sulit diatasi. Penyumbang terbesarnya adalah sampah plastik yang sulit terurai. Sayangnya, kita juga masih sulit menghindari pemakaian plastik dalam kehidupan sehari-hari.

Data riset Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia menunjukkan sampah plastik yang terbuang mencapai sekitar 26.500 ton per hari. Karena itu, pemerintah membuat kebijakan biaya tambahan untuk kantong plastik di supermarket atau mal.

Berikut beberapa pilihan kemasan ramah lingkungan untuk makanan minuman yang bisa Anda gunakan.

Jenis Kemasan Ramah Lingkungan untuk Makanan & Minuman

Plastik Berbahan Dasar Polypropylene

Dulu, banyak pengusaha kuliner memakai styrofoam untuk kemasan makanan. Sekarang bahan ini mulai ditinggalkan karena sulit terurai. Styrofoam butuh minimal 100 tahun untuk melebur secara alami.

Karena itu, banyak pengusaha kini mengganti styrofoam dengan wadah plastik berbahan dasar polypropylene. Jenis plastik ini lebih ramah lingkungan, tapi tetap kuat untuk membungkus makanan. Untuk produk beku, kombinasi wadah polypropylene dengan kemasan frozen food anti bocor juga bisa membantu mengurangi kebutuhan plastik sekali pakai berlapis-lapis.

Wadah Biofoam

Biofoam juga bisa menggantikan styrofoam. Bahan ini berasal dari bahan alami, sehingga lebih mudah hancur secara alami.

Produsen membuat biofoam dari pati tanaman pangan, ditambah serat untuk memperkuat strukturnya. Prosesnya menggunakan teknologi thermopressing: adonan pati, serat, dan bahan aditif lain dicetak pada suhu 170-180 derajat Celsius selama 2-3 menit.

Kemasan Edible Packaging

Edible packaging artinya kemasan yang bisa langsung ikut dimakan bersama produknya. Anda tidak perlu membuang sampah kemasan, karena kemasannya sendiri aman dikonsumsi dan ramah lingkungan.

Kemasan jenis ini terbagi menjadi dua: edible coating yang berfungsi sebagai pelapis, dan edible film yang berbentuk lembaran.

Standing Pouch yang Bisa Dipakai Ulang

Selain tiga jenis di atas, banyak pelaku UMKM juga beralih ke standing pouch karena penggunaan bahannya lebih efisien dibanding kemasan kaku, serta lebih hemat ruang saat pengiriman sehingga jejak karbon distribusi juga lebih kecil.

Kriteria Memilih Kemasan Ramah Lingkungan

Sebelum beralih ke kemasan ramah lingkungan, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan agar keputusan Anda tetap sesuai dengan kebutuhan bisnis.

  • Pastikan bahan tetap mampu melindungi produk selama masa simpan yang dibutuhkan.
  • Pertimbangkan ketebalan bahan agar kemasan tidak mudah bocor atau sobek saat pengiriman.
  • Cek apakah bahan tersebut memang bisa didaur ulang atau terurai di lingkungan sekitar Anda, bukan hanya di fasilitas pengolahan khusus.
  • Sesuaikan biaya kemasan dengan skala produksi agar tetap efisien.

Kesalahan yang Sering Terjadi saat Beralih ke Kemasan Ramah Lingkungan

  • Mengganti kemasan tanpa menguji dulu daya tahannya terhadap produk yang dijual.
  • Mengira semua kemasan berlabel “ramah lingkungan” otomatis mudah terurai, padahal setiap bahan punya karakteristik berbeda.
  • Tidak mengedukasi konsumen cara membuang atau mendaur ulang kemasan dengan benar.

Langkah Bertahap Beralih ke Kemasan Ramah Lingkungan

Tidak semua bisnis bisa langsung mengganti seluruh lini kemasan sekaligus, terutama jika biaya produksi jadi kendala. Berikut beberapa langkah bertahap yang bisa dicoba.

  • Mulai dari satu lini produk dulu, misalnya produk andalan, sebelum menerapkannya ke seluruh varian.
  • Bandingkan harga dan ketersediaan bahan ramah lingkungan dari beberapa pemasok sebelum berkomitmen dalam jumlah besar.
  • Minta masukan langsung dari konsumen mengenai kemasan baru, misalnya lewat survei singkat atau uji coba terbatas.
  • Evaluasi masa simpan produk setelah kemasan diganti, karena beberapa bahan ramah lingkungan punya karakteristik proteksi yang berbeda dari plastik konvensional.

Kemasan Berbahan Pulp atau Molded Fiber

Selain tiga jenis di atas, kemasan berbahan pulp cetak (molded fiber) juga makin populer untuk wadah makanan seperti nasi kotak, kue, atau buah potong. Bahan ini terbuat dari bubur kertas daur ulang atau ampas tebu (bagasse) yang dicetak menjadi wadah kaku, sehingga bisa terurai lebih cepat dibanding plastik dan tetap aman untuk kontak langsung dengan makanan.

Kertas kraft berlapis food grade juga sering dipakai sebagai pembungkus roti, gorengan, atau kemasan take away karena harganya lebih terjangkau dibanding biofoam, meski daya tahannya terhadap makanan berkuah lebih terbatas.

Urus Izin Edar Meski Sudah Pakai Kemasan Ramah Lingkungan

Banyak pelaku UMKM mengira, karena sudah menggunakan kemasan ramah lingkungan, mereka tidak perlu lagi mengurus izin edar produk. Padahal, jenis kemasan tidak menggantikan kewajiban memiliki PIRT untuk produk olahan rumahan atau izin BPOM untuk skala produksi lebih besar. Pastikan label kemasan tetap mencantumkan komposisi, tanggal produksi dan kedaluwarsa, serta nomor izin edar meski kemasannya berbahan ramah lingkungan.

Bagaimana dengan Infrastruktur Daur Ulang di Bali?

Sebelum beralih sepenuhnya, penting juga mempertimbangkan ketersediaan fasilitas pengolahan sampah di wilayah Anda berjualan. Beberapa daerah di Bali termasuk Denpasar sudah memiliki bank sampah dan fasilitas kompos komunitas yang bisa menerima kemasan biofoam atau pulp cetak, namun tidak semua wilayah punya akses yang sama. Jika target pasar Anda berada di daerah dengan akses daur ulang terbatas, edukasi konsumen soal cara membuang kemasan dengan benar menjadi sama pentingnya dengan pemilihan bahan itu sendiri.

Kehadiran kemasan ramah lingkungan ini diharapkan bisa mengurangi dampak pemanasan global. Namun, upaya ini hanya akan berhasil jika para pengusaha juga sadar akan pentingnya isu ini.

Mari mulai tingkatkan kesadaran kita akan pemanasan global dengan beralih ke kemasan yang lebih aman untuk bumi.