Bahan & Material Kemasan

Mengenal Jenis Kemasan dari Bahan Ramah Lingkungan

18 Jan 2023 Oleh Heni Nurhayati
Daftar Isi 4 bagian
  1. 01 Mendefinisikan “Ramah Lingkungan”
  2. 02 Jenis Kemasan yang Ramah Lingkungan
  3. 03 Kemasan Berkelanjutan Tidak Harus Rumit
  4. 04 Pertimbangan Biaya dan Ketersediaan Bahan Ramah Lingkungan di Indonesia

Dunia kemasan berkelanjutan sering terasa membingungkan karena begitu banyak istilah yang beredar. Masalah ini makin rumit karena kata “sustainable”, “green”, dan “eco-friendly” tidak punya definisi yang baku.

Karena itu, wajar jika mencari kemasan ramah lingkungan yang benar-benar tidak merusak bumi, baik dalam produksi maupun pembuangannya, terasa cukup rumit.

Mendefinisikan “Ramah Lingkungan”

Kemasan ramah lingkungan

Secara sederhana, kemasan ramah lingkungan bisa diartikan sebagai kemasan yang terbuat dari bahan yang dapat diganti, diperbarui, atau diisi ulang. Bahan ini juga sebaiknya bisa terurai tanpa meninggalkan bahan kimia berbahaya.

Namun, ramah lingkungan tidak selalu soal materinya saja. Insinyur pengemasan sering menekankan bahwa keberlanjutan lebih penting daripada jenis bahannya, misalnya soal kemampuan kemasan untuk dipakai ulang.

Kotak yang cukup tahan lama untuk dipakai ratusan kali memberi manfaat keberlanjutan yang jauh berbeda dibandingkan kemasan sekali pakai yang terurai di rumah. Kemasan yang bisa dipakai berulang kali oleh konsumen punya jangkauan manfaat berbeda bagi bisnis dibandingkan sekadar memakai bahan mutakhir sebagai bagian dari kebijakan keberlanjutan.

Jenis Kemasan yang Ramah Lingkungan

Berikut panduan bahan kemasan ramah lingkungan yang bisa Anda pertimbangkan. Jika bisnis Anda masih menggunakan plastik, penting juga memahami kode plastik kemasan agar proses daur ulangnya tepat.

Bubur Kertas Daur Ulang (Karton)

Bubur kertas daur ulang

Bubur kertas adalah bahan seperti lem yang terbuat dari serat kayu. Serat ini bisa berasal dari produk kertas lain yang dihancurkan dan diolah kembali menjadi pulp, atau dari pohon yang baru ditebang.

Dengan banyaknya produk kertas yang beredar, mudah dipahami mengapa bubur kertas daur ulang jadi bahan kemasan ramah lingkungan yang unggul. Bahan ini paling sering diubah menjadi kemasan berbentuk karton bergelombang atau kartu stok.

Bubur Kertas Virgin (Karton)

Salah satu kelemahan bubur kertas adalah kita hanya bisa mendaur ulangnya beberapa kali sebelum kehilangan kekuatan strukturalnya. Setiap kali didaur ulang, serat kayu di dalamnya jadi semakin pendek.

Sertifikasi FSC untuk kemasan berkelanjutan

Kekuatan struktural ini bisa ditingkatkan dengan menambahkan serat kayu segar dan panjang, yang berasal dari pohon yang baru ditebang, ke dalam campuran bubur kertas.

Baik kemasan Anda dibuat dari bahan murni maupun daur ulang, sertifikasi Forest Stewardship Council (FSC) menunjukkan bahwa pulp kertasnya ditanam dan dipanen secara etis. Untuk pulp daur ulang, simbol ini menandakan setidaknya 80% bahannya berasal dari daur ulang. Untuk serat perawan, sertifikasi menandakan bahan tersebut dipanen dari pohon yang ditanam dan dikelola secara berkelanjutan.

Kemasan yang Bisa Dijadikan Kompos

Kemasan yang dapat dikompos

Kemasan yang bisa dijadikan kompos makin populer karena mudah terurai dan tidak meninggalkan bahan kimia berbahaya. Jagung, tebu, wortel, dan bit adalah bahan nabati yang paling umum dipakai untuk membuat kemasan jenis ini.

Idealnya, kemasan berlabel kompos bisa terurai di kompos rumahan dalam 180 hari, atau di fasilitas komersial dalam 90 hari.

Rami

Seiring makin banyak negara mulai melihat nilai dan potensi bisnis dari rami, bahan ini pun makin populer digunakan. Hurd dan selulosa dari tanaman rami bisa diolah menjadi bioplastik yang sepenuhnya bisa terurai secara hayati, bahkan hanya dalam waktu maksimal 6 bulan di tempat pembuangan akhir.

Jamur

Kemasan berbahan jamur

Kemasan berbahan jamur memanfaatkan limbah pertanian yang disatukan oleh miselium, yaitu akar jamur. Prosesnya dianggap sangat ramah lingkungan karena menggabungkan produk limbah organik dengan bahan organik lain yang butuh sedikit sumber daya untuk tumbuh, dan hasilnya sepenuhnya bisa terurai secara hayati.

Kemasan jamur bahkan pernah dipakai oleh IKEA beberapa tahun lalu untuk menurunkan jejak karbon dan membuat kotak kemasannya jauh lebih ringan.

Rumput Laut

Rumput laut dan alga mengandung zat seperti gelatin bernama agar. Zat ini punya banyak kegunaan, terutama dalam masakan sebagai alternatif vegetarian untuk gelatin.

Berkat kemajuan teknologi bahan, agar dari rumput laut kini juga bisa dipakai sebagai pengikat untuk menyatukan limbah tanaman, terutama jagung dan gandum, menjadi berbagai bentuk kemasan yang fleksibel.

Kertas Kraft

Seperti karton, kertas kraft dibuat dari bubur kertas, namun bisa berasal dari jenis pohon yang lebih beragam. Sisa proses pembuatan bubur kertas dari pohon perawan pun bisa dimanfaatkan untuk membuat kertas kraft, yang biasa dipakai untuk kantong kertas.

Karena serat pada kertas kraft lebih kuat dan berbentuk berbeda, jenis perekat yang lebih lembut bisa dipakai untuk mengikat pulpnya, sehingga kemasan lebih cepat terurai.

Kemasan Berkelanjutan Tidak Harus Rumit

Jika bisnis kecil Anda ingin menerapkan kemasan berkelanjutan, penting diingat bahwa prosesnya tidak harus rumit.

Bahan kemasan ramah lingkungan seperti rami, rumput laut, dan jamur berpotensi merevolusi industri pengemasan. Namun saat ini, bahan-bahan tersebut masih belum terjangkau bagi banyak pelaku usaha.

Jika Anda kesulitan menemukan kemasan ramah lingkungan yang aman sekaligus terjangkau, jangan remehkan kotak kardus sederhana. Bubur kertas tersedia melimpah, dengan jutaan ton produk murni dan daur ulang diproduksi setiap hari.

Infrastruktur untuk membuat, mendaur ulang, dan memakai ulang bahan ini sudah efisien dan diandalkan hampir semua industri, dari perusahaan besar hingga bisnis rintisan.

Pertimbangan Biaya dan Ketersediaan Bahan Ramah Lingkungan di Indonesia

Meski secara konsep menarik, tidak semua bahan kemasan ramah lingkungan di atas mudah ditemukan di Indonesia. Bahan seperti rami atau kemasan berbasis miselium jamur masih terbatas produksinya dan umumnya diimpor, sehingga harganya jauh lebih mahal dibanding karton atau kertas kraft yang sudah diproduksi secara massal di dalam negeri.

Bagi UMKM dengan anggaran terbatas, memulai dari bahan yang sudah tersedia luas seperti kertas kraft atau karton daur ulang jadi langkah paling realistis. Anda bisa menaikkan kesan ramah lingkungan lewat desain minimalis dan penggunaan tinta berbasis air, tanpa harus langsung berinvestasi pada bahan kemasan eksperimental yang biayanya belum sebanding dengan skala usaha.

Menghindari Klaim Ramah Lingkungan yang Menyesatkan

Berhati-hatilah saat mencantumkan label “biodegradable” atau “eco-friendly” pada kemasan Anda. Klaim ini sebaiknya didukung bukti nyata, misalnya sertifikasi dari lembaga terkait atau spesifikasi bahan dari supplier, karena konsumen yang makin kritis bisa mempertanyakan kebenaran klaim tersebut, terutama jika kemasan Anda sebenarnya masih dilapisi plastik konvensional di bagian dalam.

Seperti daftar di atas, ada banyak pilihan bahan kemasan ramah lingkungan. Menerapkannya sesuai kebutuhan memang tidak selalu mudah, tapi jangan khawatir. Simak juga panduan memilih jenis kemasan yang tepat untuk produk Anda, lalu temukan pilihannya di GudangKemasan.com.

#kemasan ecofriendly #Kemasan ramah lingkungan