Mengurangi makanan kemasan dan berpengawet adalah salah satu prinsip hidup sehat. Langkah ini semakin penting jika Anda memiliki hipertensi atau penyakit ginjal.
Pasalnya, makanan kemasan tinggi natrium bisa berbahaya bagi kesehatan jika dikonsumsi berlebihan. Lalu, kenapa makanan kemasan cenderung mengandung banyak natrium?
Natrium Menjaga Rasa dan Membuat Makanan Kemasan Tahan Lama
Natrium sebenarnya adalah garam alami yang banyak terkandung dalam produk pangan nabati dan hewani. Garam dapur atau natrium klorida sudah dipakai sejak berabad-abad lalu untuk mengawetkan makanan.
Anda atau ibu Anda di rumah mungkin pernah menggarami daging mentah lalu mengungkepnya sebelum dimasak nanti.
Garam bersifat menyerap air, sehingga mikroorganisme dalam daging atau bahan makanan lain mati akibat dehidrasi. Bakteri pembusuk makanan pun ikut mati, sehingga makanan bisa bertahan lebih lama.
Garam juga melindungi makanan dari pertumbuhan jamur. Produsen makanan kemasan kemudian mengikuti prinsip penggaraman ini untuk mengawetkan produknya.
Meski begitu, dosis natrium yang mereka gunakan jauh lebih banyak dibanding kandungan natrium alami pada bahan makanan segar. Natrium berlebih ini juga bertujuan menguatkan rasa agar tetap konsisten meski produk sudah lama disimpan di toko.
Selain garam dapur, jenis natrium lain yang dipakai untuk mengawetkan makanan antara lain soda kue, natrium bikarbonat, monosodium glutamat (MSG), natrium benzoat, natrium sakarin, dan natrium nitrat.
Bahan-bahan kimia ini bisa Anda temukan dalam saus salad, makanan kaleng, makanan panggang, daging olahan, daging kaleng, keju, hingga selai.
Bahaya Makanan Tinggi Natrium bagi Kesehatan
Tubuh membutuhkan garam agar bisa berfungsi baik. Namun, asupan garam berlebihan justru memberikan dampak negatif bagi kesehatan tubuh.
Saat tubuh kelebihan garam, ginjal kesulitan menguras kelebihan tersebut sehingga garam menumpuk dalam darah. Garam bersifat menyerap air, sehingga jumlah cairan di sekitar sel darah meningkat dan volume darah pun naik.
Volume darah yang tinggi membuat jantung bekerja lebih keras memompa darah ke seluruh tubuh, sehingga tekanan darah ikut naik.
Peningkatan tekanan darah jangka panjang dapat meningkatkan risiko serangan jantung, gagal jantung, dan stroke. Karena itu, salah satu cara mencegah konsumsi garam berlebih adalah dengan diet rendah garam.
Daftar Makanan Tinggi Natrium dan Rendah Natrium
American Journal of Clinical Nutrition mencatat bahwa suatu produk makanan dikatakan tinggi natrium jika mengandung lebih dari 500 mg natrium per 100 gram makanan.
Beberapa produk dengan kandungan natrium tinggi antara lain mie instan (1.500-2.300 mg), saus seperti saus sambal atau saus tomat (sekitar 1.200 mg per 100 gram), daging olahan (lebih dari 800 mg per 100 gram), dan minuman kemasan (sekitar 700 mg per 200 ml).
Jika kandungan natrium kurang dari 120 mg berdasarkan label informasi nilai gizi, makanan tersebut tergolong rendah natrium. Sayuran segar dan sereal termasuk makanan rendah natrium karena hanya mengandung sekitar 200 mg natrium per 100 gram.
Produsen yang mengutamakan kualitas biasanya juga memperhatikan standar kemasan food grade agar produk tetap awet tanpa harus bergantung sepenuhnya pada kadar natrium tinggi. Kemasan kedap udara yang baik membantu memperlambat oksidasi dan pertumbuhan bakteri, sehingga produsen berpeluang mengurangi penggunaan bahan pengawet berlebih sekaligus menjaga rasa produk tetap alami.
Sebagai konsumen, Anda bisa membiasakan diri membandingkan kandungan natrium antar merek sebelum membeli, terutama untuk produk yang sering dikonsumsi harian seperti mie instan atau saus kemasan. Kebiasaan sederhana ini membantu menjaga asupan garam harian tetap dalam batas wajar tanpa harus berhenti sepenuhnya mengonsumsi makanan kemasan favorit Anda.
Cara Produsen Mengurangi Natrium Tanpa Mengorbankan Daya Tahan Produk
Konsumen yang semakin sadar kesehatan membuat sejumlah produsen mulai mencari cara menurunkan kadar natrium tanpa membuat produk cepat basi. Beberapa pendekatan yang umum diterapkan antara lain:
- Mengganti sebagian natrium klorida dengan kalium klorida sebagai penyeimbang rasa asin, meski penggunaannya perlu dibatasi karena rasa pahit yang bisa muncul jika berlebihan.
- Memanfaatkan bumbu dan rempah alami seperti bawang putih, jahe, atau daun jeruk untuk memperkuat rasa tanpa menambah natrium.
- Mengandalkan proses pengemasan kedap udara dan penyimpanan dingin untuk memperpanjang umur simpan, sehingga produsen tidak harus terlalu bergantung pada garam sebagai pengawet utama.
Pendekatan ini memang menambah kompleksitas produksi, tetapi semakin relevan seiring meningkatnya permintaan produk rendah natrium, terutama dari konsumen dengan riwayat hipertensi.
Tips Membaca Label Natrium untuk UMKM Kuliner
Jika Anda pelaku usaha kuliner yang mulai menjual produk kemasan, memahami cara membaca dan mencantumkan informasi natrium juga penting, bukan hanya bagi konsumen.
Cantumkan Kadar Natrium per Sajian, Bukan per Kemasan
Informasi nilai gizi idealnya dihitung per sajian (misalnya per sachet atau per 100 gram), bukan per kemasan besar, agar konsumen bisa membandingkan produk Anda secara adil dengan produk sejenis di pasaran.
Perhatikan Bahan Tambahan Tersembunyi
Selain garam dapur, bahan seperti soda kue, natrium benzoat, atau MSG juga menyumbang kadar natrium. Jika Anda memakai bahan-bahan ini dalam resep, pastikan tercantum jelas dalam daftar komposisi kemasan.
Pertimbangkan Klaim “Rendah Garam” dengan Hati-Hati
Mencantumkan klaim rendah garam tanpa data yang akurat berisiko menyesatkan konsumen dan bisa menimbulkan masalah hukum. Pastikan klaim tersebut didukung hasil uji laboratorium sebelum dicantumkan di kemasan produk Anda.
Alternatif Pengawet Alami Selain Natrium
Selain menurunkan kadar garam, sejumlah produsen makanan kemasan mulai memanfaatkan pengawet alami seperti cuka, gula, atau ekstrak rempah tertentu untuk memperpanjang umur simpan produk. Kombinasi pengawetan alami dengan kemasan kedap udara berkualitas baik memungkinkan produk tetap tahan lama tanpa harus mengandalkan natrium dalam jumlah besar, sekaligus menjawab permintaan pasar yang makin banyak mencari produk berlabel “rendah garam” atau “tanpa pengawet tambahan”.
Sebagai langkah tambahan, produsen makanan kemasan skala rumahan bisa mulai membiasakan diri mencantumkan takaran saji yang realistis pada label, bukan hanya total kandungan natrium per kemasan. Cara ini membantu konsumen menghitung asupan garam hariannya dengan lebih akurat, terutama jika produk dikonsumsi bertahap dan tidak langsung habis dalam sekali makan.